Minggu, 17 Mei 2015

Hai...Bro Sis! Mau Ngapain setelah Lulus SMA?

Hai...Bro Sis! Mau Ngapain setelah Lulus SMA? LOVY Perdani masih bimbang meskipun dua hari lalu dirinya dinyatakan lulus dari SMAN 1 Mojosari Mojokerto. Dia gundah karena tak lulus seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNM PTN). Kegagalan itu didapatkannya sebelum pengumuman kelulusan SMA.

Aktivitas keseharian Lovy kini diisi dengan browsing pendaftaran kuliah di sejumlah situs perguruan tinggi dan sesekali situs penyedia lowongan pekerjaan. ”Bingung mau meneruskan ke mana. Maunya sih coba SBM PTN (seleksi bersama masuk PTN) UGM,” ujarnya.

Yang ada di benak Lovy mungkin saat ini juga dirasakan ratusan lulusan SMA sederajat. Mereka bimbang mengerjakan apa setelah lulus. Banyak pilihan yang sebenarnya bisa ditempuh lulusan SMA sederajat.

Mulai melanjutkan studi ke jenjang kuliah, bekerja, sampai membuka usaha sendiri. Namun, berkaca dari lulusan SMA sederajat tahun lalu dan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS), semua pilihan itu tentu memiliki tantangan.

Mereka yang ingin merajut cita-cita masuk PTN misalnya. Tahun lalu mereka harus berebut kuota 245 ribu kursi di seluruh PTN di Indonesia.

”Gambaran kasarnya, tahun ini kuotanya tak jauh dari itu,” ujar Koordinator Humas Pokja Panitia Nasional SNM PTN 2015 Bambang Hermanto. Jumlah itu sudah termasuk kuota SNM PTN dan SBM PTN atau jalur tulis dan seleksi mandiri.

Mereka yang tak sanggup berebut kursi PTN memang bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi swasta. Tahun lalu ada 1,1 juta pelajar yang diterima di seluruh PTS di Indonesia.

Melihat jumlah tersebut, artinya tak semua lulusan SMA sederajat bisa melanjutkan studi ke PTS. Sebab, lulusan SMA sederajat 2004 berjumlah 2,79 juta orang. Ada berbagai alasan mengapa tak semua lulusan SMA sederajat memilih tak melanjutkan kuliah ke PTS.

Saat ditemui di kantornya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan mengakui, tak semua lulusan SMA sederajat bisa meneruskan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta. ”Hanya 60 persen yang bisa melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi,” ujar Anies.

Biaya menjadi alasan utama mereka yang tak melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. ”Tuntutan orang tua yang meminta anaknya bisa segera membantu perekonomian keluarga juga menjadi faktor pendukung,” kata mantan rektor Universitas Paramadina Jakarta tersebut.

Mereka yang tak kuliah memiliki pilihan utama bekerja. Namun, hal itu pun tak mudah. Lulusan SMA selama ini dianggap tidak memiliki keterampilan lebih dibanding lulusan SMK. Data di Kemendikbud menunjukkan, serapan kerja lulusan SMK sebesar 85 persen (dari total 1.170.748 jumlah lulusan SMK pada 2014).

Sementara untuk lulusan SMA, angkanya jauh di bawah itu. ”Makanya, kita rekomendasikan bagi yang tidak ingin meneruskan bisa memilih SMK. Jangan terpicu anggapan SMA lebih keren,” tuturnya.

Melihat fenomena tersebut, Anies berencana mempersiapkan program agar lulusan SMA bisa bersaing dalam dunia kerja, sama seperti jebolan SMK. Bentuknya adalah pemberian program tambahan keterampilan kepada siswa SMA setelah mereka merampungkan ujian nasional (unas).

Para siswa SMA yang tidak berencana meneruskan studi ke jenjang kuliah akan ditawari program keterampilan yang tersedia. Selanjutnya, mereka dididik selama beberapa bulan hingga masa sekolah rampung. Anies merancang program unas tahun depan bisa diselenggarakan lebih awal, tidak di pengujung tahun pelajaran. ”Nah, setelah mengikuti unas, siswa harus mendapat pembekalan tambahan itu. Kalau tahun ini kan hanya difokuskan untuk unas. Tahun depan kita akan lebih perhatian mau ke mana setelahnya,” papar Anies.

Program Mendikbud tersebut sejalan dengan analisis ekonom senior Bank Dunia Vivi Alatas. Menurut Vivi, lahan pekerjaan bagi lulusan SMA sederajat semakin sempit dengan adanya fenomena tenaga kerja terdidik justru mengambil lahan pekerjaan kelompok tidak terampil.

Indikasi itu muncul dari data BPS yang mencatat lulusan pendidikan tinggi baru 5 persen dari total angkatan kerja. ”Alhasil, mayoritas pasar buruh diisi alumnus pendidikan dasar dan menengah,” ungkapnya.

Masalahnya, lanjut Vivi, para warga usia muda kesulitan mengakses informasi soal lapangan pekerjaan. Akhirnya banyak lulusan SMA yang bersedia melakoni pekerjaan yang seharusnya diperuntukkan bagi lulusan SD dan SMP.

”Sekitar 20 persen lulusan SMA rela bekerja di sektor tanpa keterampilan, 65 persen semiskilled,” kata Vivi. Fenomena tersebut imbas dari kegagalan lulusan pendidikan tinggi, khususnya para sarjana, yang juga menganggur dan akhirnya mengambil jatah lulusan SMA.

Senada dengan Anies, Vivi juga menyebutkan, salah satu solusi jangka pendek supaya lulusan SMA tidak lagi masuk pasar kerja tenaga tidak terampil adalah pelatihan setelah lulus sekolah.

Hal itu bisa difasilitasi pemerintah ataupun pelaku usaha. ”Pemberi kerja biasanya menuntut kualitas SDM. Sementara di sini, bagi lulusan SMA atau di bawahnya, tidak ada kesempatan meningkatkan keterampilan setelah lulus,” ungkapnya.

Sementara itu, Teguh Juwarno (anggota Komisi X DPR yang membidangipendidikan, pemuda, olahraga, dan pariwisata) mengatakan bahwa salah satu yang menjadi penyebab siswa sulit diterima di dunia kerja adalah minimnya SMK. Kebijakan menteri pendidikan pada tahun-tahun sebelumnya adalah selalu membangun SMA lebih banyak daripada SMK. ”Perbandingannya 70 persen SMA dan SMK hanya 30 persen,” ujarnya.

Praktisi entrepreneurship Jaya Setiabudi menjelaskan, seharusnya program pemerintah tidak sekadar mendorong lulusannya bisa terserap sebagai pekerja di dunia industri. Namun, lulusan SMA sederajat juga harus didorong mampu menciptakan lapangan pekerjaan untuk diri sendiri.

Masalahnya, sejauh ini Jaya melihat kurikulum pendidikan menengah atas di Indonesia belum mampu mendorong lulusannya memiliki kemampuan sebagai seorang wirausahawan.

”Lulusan SMK memang secara skill banyak yang mumpuni. Namun, mindset mereka masih sebagai seorang pekerja, bukan pengusaha,” ucap pendiri Young Entrepreneur Academy (YEA) tersebut.

Dari pengalamannya menjadi pembicara, Jaya melihat kurikulum wirausaha di SMA sederajat hanya teori. Kebanyakan pengajarnya juga diambilkan dari guru sekolah tersebut, bukan praktisi yang kenyang pengalaman.

Karena itu, penulis sejumlah buku entrepreneurship tersebut mendorong pemerintah tak sekadar membuat program untuk kesiapan kerja bagi lulusan SMA sederajat. Namun, juga ada program-program yang menciptakan mindset bahwa lulusan SMA sederajat mampu menjadi pengusaha.

Jaya memberikan saran agar penilaian tingkat kelulusan diubah. Bukan lagi sekadar berdasar penilaian hasil-hasil tes tulis, tapi juga dari penilaian action siswa bersangkutan. ”Misalnya, untuk pelajaran wirausaha, seharusnya ada dong penilaian dari omzet yang mereka capai. Bukan hanya penilaian dari hasil tes-tes teori,” tuturnya.
--jpnn--

loading...