Selasa, 28 Juli 2015

Mengapa Singapura Disebut Utopia oleh Ekspatriat?


Bayangkan sebuah kota metropolis besar dengan lalu lintas di jalan bebas hambatan yang hijau mengalir lancar dan jalan-jalan bersih berkilau. Pemugaran dilakukan segiat pemeliharaan sanitasi lingkungan.

Di tempat itu pula, empat etnik utama (Tiongkok, Melayu, India, dan Eurosia) hidup berdampingan dengan toleransi tinggi. Di sana terdapat banyak warga asing yang hidup dan membesarkan anak-anak tanpa dihantui rasa takut akan kejahatan atau tingkah laku tidak sopan sekecil apapun.

Berbagai taman, museum, ruang kesenian dan ikon arsitektur bertaraf internasional. Jelas ada alasan di balik hasil-hasil survei yang menempatkan Singapura pada peringkat atas sebagai tempat nyaman untuk bekerja dan tinggal.

“Singapura itu nyaman,” kata Richard Martin, yang menyebut diri sebagai ekspatriat senior dan bekerja untuk International Market Assessment. “Dan lokasinya sangat bagus untuk menjangkau Asia.”

Tetapi selalu ada kekurangan dari setiap utopia. Biaya hidup di Singapura terus meroket -khususnya bila dibandingkan dengan negara tetangga Indonesia dan Malaysia. Singapura juga tercatat sebagai kota paling mahal sejagat tahun 2015, berdasarkan data keluaran Economist Intelligence Unit.

Belakangan, muncul sentimen iri terhadap warga asing. Ini mungkin bisa dipahami bila melihat data statistik pemerintah Singapura yang menunjukkan jumlah pekerja asing di sana mencapai 1,32 juta orang dari total penduduk 5,6 juta jiwa.

Apalagi berdasarkan perkiraan situs expatarrivals.com dan data-data lain, jumlah ekspatriat mencapai 600.000 orang. Jumlah ini mengacu pada tenaga profesional dan tenaga tingkat manajer yang lebih terampil, berpenghasilan lebih tinggi yang sering kali memegang visa bekerja.



Berdasarkan peraturan baru, perusahaan harus merekrut tenaga kerja dalam negeri selama dua minggu sebelum diizinkan menawarkan pekerjaan kepada warga asing untuk mengisi lowongan kerja dengan standar gaji di bawah 12.000 dollar Singapura atau sekitar Rp 118 juta per bulan bulan, atau kurang dari itu.

Pencarian pekerjaan

Namun demikian Singapura tetap menjadi magnet bagi talenta asing, khususnya dalam bidang pemasaran, keuangan, dan informasi teknologi. Komunikasi, pelayaran, teknik dan periklanan semuanya memerlukan tenaga-tenaga profesional.

Berbagai perusahaan global memenuhi kota ini, termasuk Microsoft, American Express, Bain & Co, Gunvor Group, Capital Land, DBS Bank, BBDO, McCann-Erickson, dan Edelman. Di industri media, Singapura adalah pusat di kawasan Asia Tenggara bagi hampir setiap pemain besar di dunia —BBC, ESPN, Discovery Channel, Asian Food Channel.

Yang kurang diketahui umum adalah Singapura sebenarnya mempunyai pusat pengilangan minyak dan menjadi markas perusahaan-perusahaan minyak seperti Shell Eastern Trading.

Di samping itu, Singapura juga membangun distrik-distrik yang diberi nama seperti Biopolis dan Fusionopolis. Ada pula Institut Penelitian Sains Nasional yang berkecimpung dalam penelitian ilmiah dan industri dan pembangunan, dengan fokus khusus pada bidang biomedis, elektronik mikro dan teknik kimia.

Yang menggembirakan, standar gaji secara umum tinggi.


Berdasarkan Survei HSBC Expat Explorer tahun 2014, 45 persen atau hampir separuh jumlah ekspatrat digaji lebih dari 250.000 dollar Singapura atau setara dengan Rp 2,5 miliar per tahun. Dalam survei yang sama, 62 persen ekspatriat mengatakan pendapatan mereka lebih tinggi dibanding pendapatan di negara masing-masing.

“Perumahan, alkohol, mobil, semua yang diimpor bertambah mahal,” kata Roberto Versace, seorang manajer portfolio keuangan kelahiran Italia.

“Kapan saja saya berada di New York atau London, tampaknya murah. Dan saya tahu banyak orang Eropa yang pulang kampung.”

Uang itu penting

Kenaikan harga terjadi pada kebutuhan-kebutuhan yang kemungkinan paling dirasakan oleh kalangan ekspatriat: perumahan, sekolah internasional, perawatan medis, dan tambahan-tambahan fasilitas seperti anggur yang mahal.

Pada umumnya mobil impor dikenakan pajak tinggi di seluruh negara-negara Asia, tetapi di Singapura pajaknya luar biasa tinggi. Di samping itu, pemilik masih harus membayar mahal pajak jalan, pajak pemeliharaan, biaya bahan bakar dan parkir.

Semua itu membuat orang enggan menyetir. Sebagai contoh, sedan BMW 320i dipatok dengan harga 223.800 dollar Singapura atau sekitar Rp 2,2 miliar, sedangkan biaya mengurus Sertifikat Kepemilikan mobil dapat mencapai 60.000 dollar Singapura yang berlaku selama 10 tahun.


Sewa apartemen mewah yang terdiri dari dua kamar di pusat kota mencapai 10.000 dollar Singapura per bulan, meskipun ada banyak alternatf yang lebih murah. Untuk memenuhi semua itu, nasihat paling baik adalah berunding dengan perusahaan untuk memberikan paket kompensasi tambahan.

Perlu diperhatikan bahwa banyak perusahaan Singapura lebih suka memberikan insentif berupa uang tunai dibanding membayar kursus atau insentif-insentif lain. Tetapi, Versace, yang sudah beroperasi di Singapura selama lima tahun memberikan peringatan berikut, “Paket-paket yang menawarkan fasilitas perumahan semakin jarang. Fasilitas semacam itu hanya berlaku bagi pucuk pimpinan.”

Pajak 'rendah'

Bahasa Inggris digunakan secara luas. Selama kita mengantongi izin kerja, yang sebelumnya disebut visa kerja, hal-hal lain yang diperlukan seperti rekening bank setempat, kartu kredit, fasilitas internet dan kabel, dapat diproses dengan lancar.

Air bersih dapat diminum langsung. Orang juga tidak perlu khawatir membiarkan anak-anak yang sudah besar bermain di luar atau berkeliaran di jalan-jalan sendiri tanpa diawasi orang tua.

“Mengurus kepindahan, mengurus izin kerja paling mudah di sana dibanding di delapan atau sembilan kota di Asia yang pernah saya tempati,” kata Martin dari International Market Assessment.

“Di samping itu terdapat komunitas ekspatriat dari seluruh penjuru di dunia. Orang mudah mencari teman. Ada banyak klub dan perkumpulan yang bagus. Bersepeda digandrungi banyak orang di sini. “


Salah satu daya tarik Singapura adalah negara ini tetap menjadi surga bagi pembayar pajak. Ditinjau dari semua sisi, tingkat pajak masuk akal —orang tidak perlu membayar pajak jika kita berada di wilayah Singapura kurang dari 183 hari setahun. Jika tinggal di sana lebih dari itu, barulah wajib membayar pajak maksimum 20 persen.

“Tentu saja hal itu menjadi penyeimbangnya,” kata Versace. “Biaya hidup tinggi, tetapi pajaknya jauh lebih rendah dibanding di Barat.”

Selama ini Singapura membuka diri bagi talenta asing sebagai upaya meningkatkan ekonominya. Alih-alih memberikan 'visa kerja' semata, pendekatan Singapura dirampingkan menjadi sistem izin fleksibel sehingga ada tingkatan kategori-kategori pekerjaan.

Bahkan 'artis pertunjukan' mendapat kategori khusus.

Sebagian besar orang yang menduduki posisi profesional, seperti bankir dan manajer, biasanya memegang izin kerja jenis Employment Pass dengan syarat gaji pokok minimum 3.300 dollar Singapura, setara Rp 31,9 juta per bulan.

Pro dan kontra

Meskipun Singapura menawarkan banyak hal positif —keselamatan, efisiensi, makanan sedap, sekolah kelas wahid dan pelayanan kesehatan— ada beberapa sisi negatifnya.


Hidup di dekat garis Katulistiwa (jangan pergi ke sana bila Anda menyukai musim berbeda-beda, angin sepoi-sepoi atau ski) hanya dapat diminimalisir dengan cara mengatur aliran udara dan memasang pendingin ruangan. Suhu rata-rata sedikit berada di atas 30 derajat Celcius (lebih panas di siang hari).

Artinya tidak ada perubahan musim, sedangkan kelembaban terus menerus mencapai 80 persen. November hingga Januari adalah musim hujan, meskipun hujan kadang-kadang turun dari waktu ke waktu sepanjang tahun.

Hidup di tengah-tengah konsumerisme tanpa henti juga dapat melelahkan. Meskipun mal-mal di sana menakjubkan, pusat-pusat perbelanjaan itu terkadang penuh sesak dan kadang ada antrean ketika ada potongan harga khusus atau pengenalan tas baru merek Louis Vuitton atau iPhone.

“Di daerah pinggiran, Singapura sebenarnya berkembang baik,” demikian pengamatan Versace. “Tetapi pusat kotanya lebih mengglobal dengan merek-merek yang juga dijumpai di kota-kota lain. Dan walaupun harga bertambah mahal, kualitas layanan tidak selalu sepadan.”

loading...