Sabtu, 25 Juli 2015

Pacaran Dalam Islam Boleh, Asal.............. ( Semoga Yang Nekad Msih Pacaran PUTUS )

Beberapa bulan yang lalu masyarakat pernah dikagetkan oleh beredarnya buku teks sekolah yang mengajarkan “Pacaran Islami”. Terpampang ilustrasi seorang lelaki berpakaian islami dan seorang perempuan dengan balutan jilbab, dengan judul sub-bab Pacaran yang Islami. Setelah dikecam, buku sejenis malah kembali beredar akhir-akhir ini. Bahkan sedikit lebih berani. Buku yang berwarna biru dengan judul berwarna kuning, bertuliskan ‘Saatnya Aku Belajar Pacaran’. Buku yang diterbitkan percetakan Brillian Internasional ini tercatat berada di Griya Candra Mas Desa Pepe Sedati Sidoarjo, ditulis oleh Toge Aprilianto.

Buku yang tergolong sebagai bacaan anak muda ini menggunakan ‘bahasa gaul’ sehingga sangat mudah dicerna oleh pembaca dari kalangan remaja. Buku ini dinilai kontroversial. Karena secara terbuka mempromosikan ML (Making Love) kepada remaja. Pasalnya, di buku tersebut memunculkan pada beberapa paragraf bagaimana seorang jika diajak oleh pacarnya melakukan ML. Di salah satu halaman, Toge menulis, “Jadi, kalau pacar kamu ngajak ML, kamu boleh saja nurutin maunya dia, kalau kamu sanggup. Artinya, kamu mau ngelakuin itu n kamu juga siap ngadepin akibat dari perilaku ML”.

Bukan hal biasa, jika sebuah buku bacaan bagi masyarakat islam mengajarkan hubungan lelaki dan perempuan dengan hanya berdasar suka sama suka. Pasalnya, dalam islam sudah jelas panduan hubungan dengan lawan jenis.

Kesalahan buku ini dalam portal Republika.co.id, dinilai mengajarkan pembacanya melakukan zina. Sehingga Penerbit Republika menyerukan agar buku ini segera ditarik dari peredaran. General Manager Redaksi dan Promosi Penerbit Republika, Syahruddin, menyatakan isi buku tersebut merusak moral. Sebab, dalam buku itu membolehkan orang berpacaran untuk melakukan zina. “Kalau buku ini dibaca remaja sekarang mereka bisa menganggap zina adalah hal yang biasa,” kata dia, Selasa (3/2)1.

Asal Usul Pacaran

Apa sebenarnya pacaran ?. Pacaran menurut wikipedia, merupakan proses perkenalan antara dua insan manusia yang biasanya berada dalam rangkaian tahap pencarian kecocokan menuju kehidupan berkeluarga yang dikenal dengan pernikahan2. Adapun ‘Pacar’ (/pa·car/n) menurut KBBI, didefenisikan sebagai teman lawan jenis yg tetap dan mempunyai hubungan berdasarkan cinta kasih; kekasih.3 Dalam Aplikasi kamus Bahasa Inggris, pacaran dimaknai “go put members of opposite sex. Be boy and girlfriend. Engage. In sexual play”. Jika diterjemahkan berarti “Menjadikan seseorang sebagai lawan percintaan; Menjadi teman laki-laki atau teman perempuan; tunangan; Bermain seks”. Secara istilah, dalam bahasa inggris dikenal dengan istilah fiance, yang menjadi hasil serapan dari bahasa Perancis, fiancé, berarti A person engaged to be married4.

Berdasarkan penjelasan di atas, defenisi pacaran masih sangat ambigu. Menurut wikipedia, pacaran adalah fase pra-pernikahan. Menurut bahasa inggris, pacaran adalah menjadikan seseorang sebagai pasangan. Akan tetapi bisa juga dimaknai sebagai ‘bermain seks’ antara lawan jenis (opposite sex). Selain itu pacaran juga bisa dinyatakan sebagai tunangan, atau pelamaran menuju pernikahan.

Defenisi ini tentu berangkat dai latarbelakang masing-masing kebudayaan. Di mana satu istilah bisa ditafsiri dengan berbagai macam pendekatan bergantung cara pandang seseorang. Cara pandang ini dibentuk oleh worldview, dan darimana status, dan nilai sesuatu. Seekor babi, bagi seorang kristian, dapat dinikmati dengan berbagai hidangan. Namun bagi seorang muslim, bagaimana pun daging babi dimasak, dibakar atau digoreng oleh seorang chief profesional, ia tetap menjadi tidak nikmat dan tidak boleh untuk dinikmati.

Pacaran, sangat bergantung erat pada pemaknaannya. Di mana jika makna itu dibawa pada ruang kebebasan (freedom) dan penghargaan kesamaan hak (egality), maka pacaran akan diterima jika dilakukan tanpa mengganggu orang lain. Pandangan seperti itu berasal dari Pandangan Alam Barat (western worldview). Pandangan yang bebas dari nilai agama. Pandangan yang dipengaruhi ‘trauma agama’. Menurut mereka, agama telah membuat mereka terkekang. Setiap hal yang mereka lakukan harus membawa Tuhan. Makan, tidur, belajar, senyum semuanya harus didasarkan untuk Tuhan. Dan dalam kondisi seperti itu, ilmu pengetahuan terkekang oleh doktrin gereja. Sehingga mereka hidup dalam keterbelakangan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Akhirnya, setelah renaissance, dan keberhasilan doktrin sekulerisme menguasai negara Eropa dan Amerika di abad pertengahan (Medieval Age) kemajuan di letakkan pada pandangan yang harus bebas dari agama, wahyu dan tuhan.

Adian Husaini menulis, “Dendam Masyarakat Bara terhadap keistimewaan para tokoh agama yang bersekutu dengan penguasa yang menindas rakyat semacam itu juga berpengaruh besar terhadap sikap barat dalam memandang agama. Tidak heran, jika pada era berikutnya, muncul sikap anti-pemuka agama, yang dikenal dengan istilah “anti-clerisme”di Eropa abad ke-18. Sebuah ungkapan di zaman itu, “berhati-hatilah, jika anda berada di depan seorang wanita, berhati-hatilah anda jika berada di belakang keledai, dan berhati-hatilah jika berada di depan atau di belakang pendeta”5

Pacaran; Bagaimana Seharusnya ?

Di Indonesia, cara pandang western yang membuang agama, meng-infiltrasi pandangan masyarakat dan berwujud dalam pelaksanaannya. Pacaran secara umum, dimulai dari proses pendekatan, pengenalan pribadi, hingga akhirnya menjalani hubungan afeksi yang ekslusif. Dalam tradisi pacaran, ada kesepakatan (ijma’) publik, bahwa pacaran adalah hal yang lumrah, ditandai dengan ungkapan lelaki dan diterima oleh perempuan, komitmen bersama, dan berlanjut dengan interaksi yang lebih intim berupa pelukan, ciuman, dan sebagian(besar)nya berlanjut pada hubungan seksual.

Hal ini pun diamini oleh media, dan dilihat sebagai tema-tema yang sangat potensial. Diyakini akan meraup keuntungan jika dijadikan sebagai tema dalam karya seni (nyanyian, sinetron, iklan, dll). Sehingga terbentuk lingkaran ketergantungan6. Media mengikuti trend dan trend dibentuk media.

Akhirnya, karena mengadopsi konsep barat seperti ini, orang-orang pun membawanya pada ruang penerapan yang bertentangan dengan budaya timur dan melayu. Dalam budaya Timur, kehormatan diri seorang perempuan memiliki posisi yang tinggi. Sehingga, tidak demikian mudah diumbar dan dinikmati lewat proses pacarisasi apalagi berujung pada hamilisasi. Sampai sekarang pun, tradisi pacaran ternyata telah melanggar norma hukum, norma agama, maupun norma sosial di Indonesia.7

Tradisi pacaran dikenal sebagai cara yang paling lumrah dan mutlak dilakukan pada masa pranikah. Sebuah fase untuk mengenal lebih jauh pasangan hidup dalam bingkai keluarga. Sehingga pacaran menurut orang-orang tertentu dianggap sebagai, usaha deep investigation terhadap pacar satu sama lain. Sehingga tidak menyesal di kemudian hari jika ternyata sudah beranjak pada pernikahan.

Ungkapan itu, sangat persis dengan pernyataan dalam agama kristen di mana, talak (cerai) diharamkan, sehingga para kekasih “diwajibkan” untuk mengenal kepribadian satu sama lain tanpa ikatan agama, dan jangka waktu tertentu. Hal itu diungkapakan dalam Markus 10:9, “Karena itu apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia”, begitu pula ayat (11), “lalu kata-Nya kepada mereka, “barangsiapa menceraikan istrinya lau kawin dengan perempuan lain, maka ia hidup dalam perzinahan terhadap istirnya itu”. Begitu pula di ayat (12), “Dan jika si isteri menceraikan suaminya dan kawin dalam dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah”

Oleh karena itu, bagaimana sebenarnya tatacara pergaulan yang terbaik ?.

Tuntunan Pergaulan dalam Islam

Dalam islam, ada aturan pergaulan yang sudah tertuang sangat jelas dalam al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah Shallahu alaihi wasallam. Diantaranya,

Menjaga Pandangan

Bukti kejantanan seorang lelaki adalah kemampuannya mengendalikan diri dari godaan lawan jenisnya. Dalam al-Qur’an disebutkan,

“Katakan kepada laki-laki yang beriman : Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”(QS.An Nur : 30).

Akan tetapi, katanya, memandang seorang wanita cantik adalah bukti kekaguman kepada sang pencipta. Dengan mengagumi keindahan ciptaannya, maka kita akan semakin yakin dengan kekuasaannya. Ungkapan tersebut sebenarnya adalah bukti kekosongan jiwa, dan keinginan untuk memenuhinya dengan rasa manis yang membuat Dia akan semakin terdorong pada perkara yang tidak dibernarkan. Padahal, menundukkan pandangan adalah pengorbanan. Dan setiap pengorbanan untuk Allah, akan diganti dengan balasan yang jauh lebih baik. Rasulullah shallahu alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah seorang Muslim sedang melihat keindahan wanita kemudian ia menundukkan pandangannya, kecuali Allah akan menggantinya dengan ibadah yang ia dapatkan kemanisannya.” (HR. Ahmad). Begitu pula dengan hadits, “Semua mata pada hari kiamat akan menangis, kecuali mata yang menundukkan atas apa yang diharamkan oleh Allah, mata yang terjaga di jalan Allah dan mata yang menangis karena takut kepada Allah.” (HR. Ibnu Abi Dunya)

Menutup Aurat Secara Sempurna

Dalam al-Qur’an disebutkan,

“Hai nabi, katakan kepada istri-istrimu dan anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang-orang mukmin hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka, yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenal, hingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lahi Maha Penyanyang.”(QS.Al Ahzab:59).

Bersamaan dengan itu, ayat ini dijelaskan oleh hadits, “Hai Asma, sesungguhnya perempuan itu apabila telah sampai umur/dewasa, maka tidak patut menampakkan sesuatu dari dirinya melainkan ini dan ini. Rasulullah berkata sambil menunjukkan kepada muka dan telapak tangan hingga pergelangannya sendiri.” (HR. Abu Dawud dan Aisyah)

Batas aurat seorang wanita minimal adalah aurat seperti ia dalam shalatnya. Dan batas aurat laki-laki adalah antara pusar dan lutut.

Menghindari Suara Mendayu

“Hai istri-istri nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita lain, jika kamu bertakwa, maka janganlah kamu rendahkan (mendayu) dalam berbicara, sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik.”(QS.Al Ahzab:32).

Salah satu pintu yang mengarahkan pada perbuatan faahisyah antara dua lawan jenis adalah suara yang mendayu. Dan setiap lelaki bisa merasakan bagaimana pengaruh suara seorang perempuan yang mendayu. Apalagi sengaja di-dayu-dayukan.

Dilarang Berkhalwat

“Dari Ibnu Abbas RA, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda : Janganlah sekali-kali salah seorang diantara kalian bersuyi-sunyi dengan perempuan lainnya kecuali disertai mahramnya.” (HR. Bukhari Muslim dikutip Imam Nawawi dalam Terjamah Riyadhus Shalihin).

Mampu: Menikah, Belum Mampu: Puasa

“Wahai sekalin pemuda, barang siapa diantara kamu yang mampu nikah, maka menikahlah, sesungguhnya nikah itu bagimu dapat menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan, naka jika kamu belum sanggup berpuasalah, sesunggunya puasa itu sebagai perisai”(HR.Muttafaqun Alaihi).

Selain membentengi wanita dengan hijab, cara bicara yang baik serta cara jalan yang terhormat di depan umum, islam juga memberi solusi bagi lelaki agar dapat mengendalikan pandangannya. Dan perisai yang terbaik bagi mereka adalah puasa.

Demikian seharusnya hubungan dan pergaulan lawan jenis dalam islam. Penulis teringat dengan perkataan Ustadz Jefry al-Buchori, “Boleh pacaran, yang penting jangan telpon-telponan, jangan sms-sms-an, jangan pegang-pegangan, jangan peluk-pelukan dan jangan cium-ciuman”. Sehingga Pacaran yang terbaik adalah pacaran setelah menikah, kata Jon Haryadi.

Wallohu a’lam Bisshawab.

Abu Adlan Fatih

1 http://www.kaskus.co.id/thread/54d19c00d44f9f3f308b4577/heboh-buku-quotsaatnya-aku-belajar-pacaranquot-yang-melegalkan-perzinahan/

2 http://id.wikipedia.org/wiki/Pacaran

3 http://id.wikipedia.org/wiki/Pacaran

4 http://en.wiktionary.org/wiki/fianc%C3%A9

5 Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat; dari Dominasi Kristen ke Sekuler Liberal, GIP: Jakarta, 2014, hlm. 39.

6 (jika tidak mau disebut lingkaran setan)

7 http://id.wikipedia.org/wiki/Pacaran

loading...