Senin, 10 Agustus 2015

Batu Akik Mani Gajah Bikin Heboh Warga Sragen

Batu Akik Mani Gajah Bikin Heboh Warga Sragen
Warga di Desa Bonagung, Kecamatan Tanon, Sragen, Jawa Tengah, menemukan batu akik mani gajah. Pencarian fosil mani gajah lainnya masih terus dilakukan puluhan warga di tanah seluas 2 hektare milik warga setempat, Cokro Suwarno.

Kepala Desa Bonagung, Suwarno, mengatakan, pihaknya telah meminta warga untuk tertib saat melakukan penggalian. Warga dilarang saling berebut mencari batu mani gajah tersebut.

"Kami sudah minta warga mengutamakan ketertiban. Silakan menggali asal tidak sampai merusak lingkungan," ujarnya beberapa waktu lalu.

Suwarno menjelaskan, fosil yang dicari itu disebut mani gajah lantaran bongkahan batunya dipercaya sebagai kristalisasi dari mani atau sperma gajah purba yang telah berusia ribuan tahun.

Nama mani gajah awalnya diperoleh dari Sangiran. Keyakinan itu diperkuat setelah diteliti oleh ahli geologi bernama Budi.

"Menurut Pak Budi, batu di sini umurnya sudah ribuan tahun, sejak pada zaman es. Katanya, perkawinan mani gajah itu pada tempat-tempat tertentu, tempatnya di sini. Maninya tercecer di sini dan dikubur. Setelah ribuan tahun akhirnya menjadi kristal seperti ini," ucap Suwarno sambil menunjukkan batu mani gajah.

Sementara Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia (BPSMP) Sangiran, Sukronedi, justru membantah bahwa jenis batuan yang ditemukan di Desa Bonagung, Kecamatan Tanon, adalah mani gajah purba. Batu yang digali warga dinilai sebagai hasil proses pembentukan mineral batuan secara alamiah.

"Jenis batuan yang ditemukan itu juga banyak sekali ditemukan di kawasan Situs Purba Sangiran atau yang dinamakan Kubah Sangiran. Menurut saya, itu sebenarnya bukan mani gajah purba tapi memang masyarakat sering menyebut sebagai mani gajah. Kalau maninya seperti itu, terus gajahnya seperti apa," ujarnya.
Sumber : Kedaulatan Rakyat

loading...