Selasa, 28 Februari 2017

Apakah Keputihan Itu Suci Atau Cairan Najis? Inilah Jawabannya..

MediandaTerkini � Sahabat medianda terkini Dalam suatu forum pengajian ada yang bertanya tentang cairan keputihan. Apakah keputihan itu najis?



Ustadz menjawab, keputihan (ifrazat) adalah lendir yang umumnya bening, keluar dari organ reproduksi wanita, namun bukan madzi dan mani. Baik karena sya*hwat maupun ketika aktivitas normal.

Apakah Keputihan Itu Suci Atau Cairan Najis? Inilah Jawaban Islam

Baik yang bersifat normal maupun karena penyakit. Para ulama menjelaskan hukum keputihan (ifrazat) sebagaimana ruthubah (lendir yang selalu membasahi organ reproduksi wanita).

Ada 2 kajian yang akan kita bahas untuk masalah keputihan bagi wanita. Kajian pertama tentang status cairan keputihan, apakah termasuk benda najis ataukah bukan? Kedua, apakah keluar keputihan menyebabkan batalnya wudhu.

Ulama berbeda pendapat apakah keputihan itu najis ataukah suci, Pertama, keputihan statusnya najis. Ini pendapat Imam as-Syafii menurut salah satu keterangan, as-Saerozi; ulama madzhab Syafiiyah, al-Qodhi Abu Yala; ulama madzhab Hambali, dan beberapa ulama lainnya.

Ini pendapat Hanafiyah, pendapat Imam as-Syafii menurut keterangan yang lain, al-Baghawi, ar-Rafii; ulama madzhab Syafiiyah, dan Ibnu Qudamah; ulama madzhab Hambali.

Ibnu Qudamah ulama madzhab Hambali menjelaskan, "Dalam permasalahan keputihan yg keluar dari organ reproduksi wanita, ada 2 pendapat,

[1] keputihan statusnya najis sebab berasal dari kema-luan yang bukan unsur terciptanya seorang anak. Sebagaimana madzi.

[2] keputihan statusnya suci. Karena Aisyah pernah mengerik mani dari baju Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam bekas jima. Mengingat tidak ada seorang nabi pun yang mengalami mimpi basah. Sehingga makna air mani tersebut adalah cairan yang bercampur dengan cairan basah farji istri beliau. Karena jika kita menghukumi keputihan sebagai benda najis, seharusnya kita juga berpendapat najisnya mani wanita. Mengingat mani wanita juga keluar dari kema-luannya, sehingga bisa menjadi najis karena ada keputihan di leher rahim.

Sementara al-Qadhi Abu Yala berpendapat, semua yang terkena cairan basah dari kema-luan ketika jima statusnya najis. Karena tidak lepas dari madzi, sementara madzi hukumnya najis.

Ibnu Qudamah mengomentari, alasan al-Qodhi tidak benar. Karena sya*hwat ketika memuncak, akan keluar mani tanpa madzi, sebagaimana ketika mimpi basah. (al-Mughni, 2/65).

Keterangan dari Imam an-Nawawi ulama syafiiyah "Keputihan yang keluar dari farji bentuknya cairan putih. Diperselisihkan sifatnya, antara disamakan dengan madzi dan al-irq (cairan kema*luan). Karena itu, ulama berbeda pendapat mengenai hukumnya. Kemudian, penulis (as-Saerozi) dalam kitab al-Muhadzab ini dan kitab at-Tahbih, keputihan hukumnya najis.

Ini juga pendapat yang dipilih al-Bandaniji. Sementara al-Baghawi dan ar-Rafii serta yang lainnya berpendapat bahwa yang benar adalah suci.

Penulis kitab al-Hawi mengatakan, Imam as-Syafii menegaskan dalam sebagian kitab-kitabnya bahwa keputihan wanita statusnya suci. (al-Majmu, 2/570).
Antara Hadis Aisyah dan Hadis Utsman radhiyallahu anhuma
Mengapa ini dikhususkan, karena dua hadist ini yang menjadi titik tolak pembahasan.

 


Pertama, hadist Aisyah radhiyallahu anha, tentang air mani yang menempel di baju Nabi shallallahu alaihi wa sallam, kata Aisyah, "Aku mengerik mani itu dari baju Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam (HR. Muslim 288, Nasai 296, dan yang lainnya).

Yang dipahami dari hadis ini (sebagaimana keterangan Ibnu Qudamah di atas),

Mani yang ada di baju Nabi shallallahu alaihi wa sallam adalah bekas hu*bungan badan, dan bukan mani mimpi basah. Karena para nabi tidak mengalami mimpi basah.
Karena mani itu bekas dari hubungan badan, bisa dipastikan cairan yang nempel di situ bercampur dengan cairan yang ada di farji wanita.
Aisyah radhiyallahu anha mengeriknya, dan yang namanya mengerik bisa dipastikan tidak akan bersih sempurna.

Kedua, hadis Ustman bin Affan

Dulu, orang yg melakukan hubungan badan, namun tidak sampai keluar mani, tidak diwajibkan mandi junub. Namun cukup berwudhu.

Zaid bin Khalid pernah bertanya kepada Utsman bin Affan, Apa hukumnya orang yang berhubungan, tapi tidak keluar mani? Jawab Utsman,""Dia berwudhu dengan sempurna dan dia cuci kema-luannya." Kata Utsman, Aku dengar dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. (HR. Bukhari 179 dan Muslim 347).

Yang dipahami dari hadist ini, Orang yg berhubungan dan tidak or*ga*sme, dia tidak wajib mandi, tapi cukup wudhu. Dan hukum ini telah dinasakh (dihapus) dengan hadis Abu Hurairah yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim
Adanya perintah mencuci kema-luan sehabis hu*bungan meskipun tidak keluar mani. Artinya itu perintah membersihkan cairan yang menempel di ke*ma*luan karena hubungan badan.

Perintah mencuci kema-luan di situ tidak mansukh, hukumnya tetap berlaku.

Ulama yg berpendapat bahwa keputihan tidak najis, mereka berdalil dengan hadis Aisyah radhiyallahu anha. Sementara ulama yang menilai najis berdalil dengan hadis Utsman. Dan jika kita perhatikan, masing-masing dalil tidaklah tegas menunjukkan demikian. Karena masing-masing pendapat menyimpulkan hadis di atas berdasarkan makna, yang tidak tercantum dalam teksnya.

Kemudian, Syaikh Musthofa al-Adawi dai dari Mesir , setelah membawakan perselisihan pendapat ulama dalam masalah ini, beliau mengatakan, "Dengan melihat lebih mendalam terhadap keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa tidak ada dalil tegas yang menunjukkan bahwa keputihan wanita hukumnya najis. Sementara hadis yang dibawakan Bukhari, yang ada pernyataan, "Dia harus berwudhu sempurna dan mencuci kema-luannya.." tidaklah menunjukkan dengan tegas bahwa mencuci kema-luan dalam kasus itu, disebabkan keputihan wanita. Namun bisa juga dipahami karena madzi. Sebagaimana Nabi shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan al-Miqdad ketika dia bertanya tentang madzi, jawab Nabi shallallahu alaihi wa sallam, Dia harus berwudhu dan mencuci kema-luannya.

Kemudian beliau menyimpulkan, "Oleh karena itu, keputihan yang ada di organ reproduksi wanita, statusnya suci. (Jami Ahkam an-Nisa, 1/66).

Disamping itu, cairan keputihan yang keluar dari organ reproduksi wanita, adalah hal yang wajar terjadi di masa silam.  Sahabat medianda terkini meskipun demikian, kita tidak menjumpai adanya riwayat dari para sahabat wanita (shahabiyat) yang menanyakan hal itu kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Padahal umumnya mereka hanya memiliki satu pakaian. Jika ini najis, tentu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam akan mengingatkannya. Sehingga kembali ke hukum asal, bahwa segala sesuatu hukum asalnya adalah suci.

Semoga bermanfaat.



Sumber:Beradab

loading...