Rabu, 01 Maret 2017

Orangtua Pernah Jadi Anak, Anak Belum Pernah Jadi Orangtua

MediandaTerkini � Sahabat medianda terkini Ingatlah bahwa setiap orangtua sudah pasti pernah jadi anak sedangkan anak belum pernah jadi orangtua. Artinya apa? Segala macam hal yang kita alami selama menjadi anak-anak seharusnya bisa membuat kita jadi lebih baik dan bijak saat menjadi orangtua.

Dibandingkan dengan saudara dan anak tetangga itu tidak enak walaupun maksudnya baik yakni untuk memacu semangat, that's why saat jadi orangtua kita jadi berusaha untuk tidak membanding-bandingkan anak. Masih ada sejuta cara untuk memotivasi anak menjadi lebih baik selain membanding-bandingkan. Ini misalnya.

Atau, dulu Ayah selalu dengerin kita cerita. Padahal ternyata cerita kita itu sepele banget. Namun Ayah rela nahan rasa kantuknya dan merasa bahwa cerita kita itu amazing. Di situ kita merasa sangat dianggap istimewa sebagai anak. Jadi, bagaimana mungkin kita tidak sayang sama Ayah lha wong beliau luar biasa banget, perhatian banget, membuat kita percaya diri. Semoga kelak saat sudah jadi orangtua, kita bisa meneladani sang ayah. Ini misalnya juga.

Dari pengalaman-pengalaman sederhana sebagai anak sebenarnya setiap orang sudah mempunyai bekal untuk bisa jadi orangtua yang lebih baik. Hal-hal yang baik tetap dipertahankan sedangkan hal-hal yang kurang baik karena ketidaktahuan dan ketidaksengajaan ya tidak dilakukan.

Sahabat medianda terkini adapun beberapa poin lain yang perlu diperhatikan dalam rangka menjadi orangtua yang lebih baik yaitu:

1. Anak adalah amanah (subjek), bukan "alat" (objek)

Poin penting memotivasi dan mengajari anak bukan agar mereka bisa membanggakan orangtua atau "dilihat" tetangga "Ihh, anakmu kok pinterr" atau alat pembuktian "Dulu mama papa diremehin karena tidak bisa ke Planet Mars, maka Kamu sekarang harus bisa!"

Alasan tersebut seolah menjadikan anak sebagai tameng atau alat balas dendam. Apapun yang terjadi di masa lalu dengan orangtua ya si anak memang harus jadi orang sukses dunia akhirat sebab dengan begitu dia bisa menolong banyak orang dan berkontribusi pada peradaban. Sekarang bagaimana bisa seseorang memberikan sesuatu yang bermanfaat pada sekitar jika dirinya sendiri tidak kuat/sukses.

Sebaik-baik manusia ialah yang paling banyak manfaatnya buat orang lain. Maka, tidak ada alasan lain untuk tidak sukses. Harus berdaya dan mandiri. Beda cara memotivasi dan mengajari, beda dampak.

2. Jangan membanding-bandingkan anak karena kita pun tidak mau dibanding-bandingkan.

"Tahu gak, tetangga sebelah udah hafal 20 juz. Seusia Kamu juga,"

"Tahu enggak Ma Pa, orangtuanya temanku jadi ustadz & ustadzah terkenal se-Indonesia. Seusia Mama Papa juga sih," gimana? Enggak enak kan rasanya? Maka, sebaiknya kita tidak melakukan hal tersebut pada anak-anak kita.

3. Meski masih kecil, anak juga punya harga diri. Jangan memarahi dan membentak anak di depan orang karena kita pun dulu saat masih menjadi anak-anak biasanya menangis atau terluka sekali saat dimarahi di depan umum.

4. Ada kalanya pasangan suami istri berantem. Jika itu terjadi, jangan lakukan di depan anak, apalagi jika sifat bertengkarnya sangat ekstrim dan tidak layak dilihat anak-anak. Sudah banyak penelitian yang menyatakan bahwa akan selalu ada efek samping negatif saat orangtua hobi bertengkar di depan anak.

5. Bagaimana jika kepergok bertengkar? Usahakan untuk menjelaskan dengan lembut bahwa ada kalanya manusia itu berkonflik, tapi bukan berarti saling membenci. Dan besok-besok, kita harus berjanji dalam hati untuk tidak mengulanginya lagi (bertengkar di depan anak)

6. Cintai anak apa adanya. Jangan cuma dianggap atau didengarkan pendapatnya ketika dia sudah jadi "seseorang". Jika kita sebagai manusia normal ingin dicintai apa adanya oleh pasangan, pun anak.

Kita pasti sedih jika ternyata pasangan hanya mencintai karena sesuatu (karena kita kaya atau punya jabatan misalnya). Begitu pun anak yang notabene manusia yang punya perasaan.

Setiap anak unik dan istimewa. Mencintai apa adanya dan menerima proses belajar serta tumbuh kembangnya akan membuat anak merasa berarti. Sebagai anak, kita dulu merasa bahagia bukan jika diperlakukan seperti itu? Dan biasanya kita justru semakin ingin memberikan yang terbaik dari hati, bukan karena dipaksa atau sekadar kewajiban semata.

7. "Pa Ma aku maunya jadi pengusaha sukses gak mau jadi pegawai perusahaan ternama seperti Papa."

Semoga kita bisa menghargai keputusan anak yang ingin mengambil jalur sukses berbeda dengan orangtuanya. Tentu dengan kita berikan semangat bahwa setiap pilihan ada konsekuensi jadi harus bertanggung jawab dengan hal itu.

8. Jika anak cerita apa saja kepada kita orangtuanya, berbahagialah. Karena itu artinya dia percaya. Mending cerita ke orangtuanya daripada ke pihak lain.

Bagi kita orang dewasa cerita mereka mungkin sederhana, tapi bagi anak-anak cerita mereka luar biasa.

Kita pun dulu merasa sangat bahagia bukan jika orangtua menyimak cerita-cerita kita? Pun sebaliknya.

9. Jangan berkata, "Kalau orangtua pasti sayang sama anak. Kalau anak belum tentu," karena hal itu akan sangat menyakitkan. Kita pun dulu merasa terluka jika orangtua berkata begitu. Lalu, kenapa kita teruskan penanaman luka tersebut?

Dan tahukah, sebenarnya dengan berkata demikian kita secara tidak sadar sedang memberitahukan anak bahwa dulu ketika masih jadi anak-anak kita tidak sayang dengan orangtua. Nah. Anak sekarang kritis-kritis lhoh.

Dan lagi, bukan seperti itu cara agar anak sayang dengan orangtua. Bukan dengan didoktrin atau ditakut-takuti apalagi diancam dan dituduh.

Sebenarnya, masih ada baanyaakk lagi poin-poin penting yang bisa ditambahkan & harus kita perhatikan.

Sahabat medianda terkini semoga kita bisa jadi orangtua yang lebih baik daripada generasi pendahulu demi peradaban yang juga lebih baik. Karena generasi sekarang harus lebih baik daripada generasi masa lalu dan generasi masa depan harus lebih baik daripada generasi sekarang.

Semoga bermanfaat.



Sumber:Ummi-online

loading...